Rumah-Adat-Khas-Sulawesi-Selatan-&-Penjelasan
09/02/2021

Rumah Adat Khas Sulawesi Selatan & Penjelasan

By admin

Rumah adat di Sulawesi Selatan

1. Rumah Adat Suku Makassar

 

Rumah-Adat-Khas-Sulawesi-Selatan-&-Penjelasan

Rumah adat suku Makassar berbeda dengan suku lainnya. Masyarakat Makassar menyebutnya dengan rumah Balla. Rumah suku Makassar berbentuk panggung yang berada 3 meter di atas permukaan tanah. Rumah ditopang oleh kayu dengan total 5 penyangga ke belakang dan 5 penyangga ke samping.

Berbeda dengan rumah bangsawan yang tingkat ekonominya tinggi, biasanya lebih besar. Selain itu, jumlah penyangga biasanya 5 penyangga di samping dan 6 penyangga atau lebih di bagian belakang.

Atap rumah Makassar sendiri berbentuk seperti pelana dengan sudut lancip ke bawah. Atap rumah bisa dibuat dari nipah, ilalang, bambu, ijuk dan alang-alang. Uniknya, di atas atap yang berbatasan dengan dinding terdapat bentuk segitiga yang disebut timbaksela.

Timbaksela di atas atap memiliki lambang tersendiri bagi masyarakat Makassar yang menunjukkan derajat kebangsawanan mereka. Timbaksela yang bukan strata milik warga biasa, sedangkan yang di strata tiga ke atas milik bangsawan, sedangkan yang di strata lima ke atas milik bangsawan yang memegang jabatan pemerintahan.

Ada juga yang namanya tukak, yaitu tangga yang digunakan di dalam rumah. Bagi bangsawan, maag mereka terdiri dari 3 atau 4 anak tangga dengan pegangan (coccorang). Sedangkan ulkus yang biasa jumlahnya ganjil dan tidak memiliki coccorang.
Aturan di rumah Makassar adalah bagian atas di bawah atap terdiri dari loteng tempat penyimpanan barang, seperti tempat penyimpanan beras. Sedangkan bapak digunakan untuk gudang di ujung bawah rumah.

2. Rumah adat suku Bugis

Saat membangun rumah adat Bugis, mereka dipengaruhi tidak hanya oleh budaya tradisional mereka tetapi juga oleh Islam. Ini karena Islam telah menjadi budaya dan muncul dari mereka bahwa mereka membangun rumah yang utamanya berdasarkan kiblat.

Rumah adat di Sulawesi Selatan ini unik. Pasalnya, rumah paroki Bugis tidak menggunakan paku melainkan diganti dengan besi atau kayu. Rumah yang dibangun juga berdasarkan status sosialnya. Rumah Saoraja digunakan untuk bangsawan, sedangkan bola digunakan oleh rakyat biasa. Baik rumah Saoraja dan bola terdiri dari 3 bagian termasuk:

Rakkaeng (bugis) / pemmakang (makassar) digunakan untuk menyimpan pusaka atau bahan makanan.

Bola atau kalle bala, yaitu ruangan khusus seperti ruang tamu, kamar tidur atau dapur

Awasao atau Passiringan, untuk menyimpan alat pertanian atau untuk ternak.

Bagian menarik lain dari rumah adat Bugis adalah ornamennya. Ornamen tidak hanya digunakan sebagai dekorasi. Selain itu, ornamen tersebut melambangkan status pemilik rumah.

3. Rumah adat suku Luwuk

Rumah adat di Sulawesi Selatan

Rumah adat Sulawesi Selatan bagi suku Luwuk dulunya adalah rumah Raja Luwu. Raja Luwu adalah rumah adat di Sulawesi Selatan yang dibangun dengan 88 tiang kayu. Bentuk rumahnya adalah persegi panjang dengan ukuran jendela dan pintunya sama. Selain itu, rumah adat Luwuk memiliki 3-5 punggungan untuk menandai pemiliknya.

Bagian pertama rumah itu memperlihatkan sebuah ruangan besar tempat urusan Kerajaan dibahas dengan orang-orang. Di bagian kedua setelah kamar kami menemukan dua kamar yang digunakan untuk kakek dan raja. Bagian terakhir juga akan menemukan dua ruangan, tetapi lebih kecil.

Yang membedakan rumah ini dengan rumah lainnya adalah ukiran dan ukiran hiasnya. Ornamen rumah adat ini dinamakan bunga Prengreng, yang melambangkan falsafah hidup yang menjalar merambat, artinya hidupnya berkelanjutan. Ornamen ini dapat ditemukan di tangga utama, kusen jendela atau anjong (bangunan tertutup).

4. Rumah adat suku Mandar

Rumah adat suku Mandar memiliki bentuk yang sama dengan rumah adat suku Bugis dan Makassar. Namun, perbedaannya terlihat pada sebagian besar teras (Lego). Juga, ketika kita melihat atapnya, terlihat seperti ember yang miring ke depan.

5. Rumah adat suku Toraja

Rumah adat suku Toraja Sulawesi selatan disebut Tongkonan. Tongkonan berdiri di atas tumpukan kayu dengan ukiran berwarna merah, hitam dan kuning. Tongkonan melambangkan hubungan dengan nenek moyang mereka, sehingga rumah ini dijadikan sebagai pusat spiritual mereka.

Rumah ini merupakan rumah panggung kayu yang terdiri dari 3 bagian. Bagian-bagiannya terdiri dari Ulu Banua (atap), Kalle Banua (badan rumah) dan Suluk Banua (kaki rumah). Untuk tata letaknya sendiri terdapat ruang utara (ruang tamu), ruang tengah (ruang keluarga) dan ruang selatan (ambung). Tongkonan dikenal dengan 3 jenis, yaitu:

Tongkonan Layuk. Bagi Tongkonan Layuk adalah tugasnya untuk menempatkan kekuasaan tertinggi karena itu adalah pusat pemerintahan

Tongkonan Pekanberan (Pekaindoran). Pakaindoran Biasanya dimiliki oleh anggota keluarga yang memegang posisi dalam adat

Tongkonan Batu. Tongkonan ini digunakan oleh masyarakat Toraja pada umumnya

Baca Juga: